Uncategorized

Kehadiran Seseorang

Source: www.google.com
Source: http://www.google.com

Setiap scene hidup kita, pastilah tak jauh-jauh dari sentuhan tangan orang lain. Mampukah kita hidup seorang diri? Kurasa tidak. Coba kita lihat, sebulir nasi yang kita makan. Apakah kita menanam padinya sendiri? Apakah kita menuainya sendiri? Kurasa juga tidak. Kita membutuhkan petani untuk menanam dan segala prosesnya untuk menjadi beras yang dapat dikonsumsi. Kita saat ini bisa membaca dan menulis pun juga karena bantuan orangtua dan guru. Ya sudah. Kita akan menjadi sangat sombong jika menganggap diri kita mampu melakukan segalanya sendiri.

Allah hadirkan mereka yang telah mampu membuat kita tumbuh, dengan tak lain supaya kita bersyukur, supaya kita tak angkuh, supaya kita bisa menghargai orang lain. Itulah misi rahasia yang Allah sisipkan. Pandai-pandai kita yang menelaah.

Kehadiran seseorang pasti bukan kebetulan. Ya. Allah pasti punya misi ketika Dia mengirimkan seseorang ke kehidupan kita. Kita tidak tahu, seseorang itu akan membuat dampak apa bagi kita. Bisa baik, bisa buruk. Tergantung cara pandang hati kita. Dan seseorang yang Allah kirimkan itu, bisa siapa saja. Tidak melihat tua, muda, miskin, atau kaya. Random saja. Kehadiran seseorang juga tidak dapat kita duga-duga. Bisa datang kapanpun, sesuai yang Allah suka.

Pernahkah kita merasa terjatuh? Bukan. Bukan terjatuh dari sepeda atau pohon. Hehehe. Tetapi terpuruk hingga kita tak mempunyai daya dan upaya untuk bangkit kembali. Pernahkah? Pasti kemudian orangtua datang, merengkuh.. Sahabat tak lupa untuk datang menghibur. Sadar atau tidak, mereka adalah orang-orang yang Allah kirimkan kepada kita untuk bangkit kembali. Untuk lebih semangat menjalani hari-hari. Untuk menyadarkan kita, bahwa kita tak pernah sendiri..

Pernahkah kita menyombongkan diri? Atau merasa ‘terangkat’ ketika orang lain memuji kehebatan kita? Mungkin kita tidak merasa sedang sombong. Tetapi sombong layaknya rasa cinta… menyelusup halus ke dalam hati kita. Jika kita tak cepat menyadari, kita akan semakin terlena. Saat itu juga, seringkali kita ditegur orang lain karena ulah kita sendiri. Ya itu tadi, sombong. Mungkin orang itu tidak nyaman dengan sikap kita yang secara tidak sadar sedang menyombongkan diri sehingga dia merasa mempunyai kewajiban untuk menegur. Yang seperti itu Allah kirimkan, tentu bukan tanpa maksud. Allah sedang memperingatkan kita melalui manusia. Tetapi, ketika yang hatinya tidak lapang, ‘sentilan’ itu justru akan ‘menjatuhkan’ kita. Menodai hati kita… Pasang selalu “kacamata positif” supaya kita mempu menjadikan kehadiran seseorang itu menjadi sesuatu yang membaikkan.

Memang, Kehadiran seseorang tidak selalu berawal dari kata-kata dan perilaku uang manis. Justru yang berawal menyakitkan itu akan menguatkan. Mungkin bagi kita, teguran dari orang lain itu adalah hal yang menyebalkan. Siapa sih, orang kok suka ngatur-ngatur. BIasanya begitu, semoga kita tidak… Padahal, Allah Maha Mengetahui, teguran itu dapat membaikkan kita.. Perhatikan bunyi ayat ini:

“.. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. al-Baqarah [2]: 216)

Yang berawal manis pun juga tidak selalu melenakan. Jadikan perkataan manis itu sebagai cambuk pembuktian untuk dapat memberikan yang lebih baik lagi. Tergantung kondisi hati kita. Apakah akan terlena pada puja-puji manusia? Atau beri ia pembuktian yang lebih? Apakah kita akan tersinggung ketika kita ditegur seseorang? Walaupun itu benar? Atau akan bangkin dengan terus memperbaiki diri? Semua itu pilihan. Pilihlah yang terbaik.

Sekali lagi, Allah hadirkan seseorang dalam setiap sesi kehidupan selalu mempunyai misi untuk kita. Kita juga harus pandai-pandai menelaah kehadiran Allah melalui manusia. Jadi, manis atau tidaknya pertemuan kita dengan seseorang, pasti ada “sesuatu” yang dapat membaikkan kita. We must believe it :).

***

Seseorang yang hadir dalam kehidupan kita dan kita merasa tersakiti karenanya, maka darinya kita belajar untuk ikhlas memaafkan.

Seseorang yang hadir dalam kehidupan kita dan kita merasa bahagia, maka darinya kita belajar akan sebuah kebahagiaan.

Seseorang yang hadir dalam kehidupan kita untuk meminta bantuan kita, maka darinya kita belajar untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.

Seseorang yang hadir dalam kehidupan kita hanya untuk terus menasihati, maka darinya kita belajar untuk terus memperbaiki diri.

Kita harus bersyukur ketika bertemu orang yang keempat. Kehadirannya ada untuk menasihati. Yang namanya nasihat pasti untuk kebaikan. Pada saat itulah kita akan menyadari bahwa nasihat merupakan sebuah bentuk kasih sayang orang lain terhadap kita. Mereka ingin kita menjadi lebih baik. Meskipun di awal kita merasa tak senang, tetapi mereka punya maksud yang mulia. Untuk kita. Untuk kebaikan kita. MasyaAllaah.

Semoga hati kita senantiasa dibukakan untuk menerima setiap nasihat kebaikan dari orang lain. Nasihat supaya DIA ridho kepada kita. Aamiin.

Di sini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk siapapun yang telah memberi saya nasihat, meskipun harus berawal dengan air mata. Terima kasih…

***

Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,

dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian

karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis

pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya

jika engkau menyelisihi dan menolak saranku

maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.

Semoga bermanfaat. 😊

Advertisements

2 thoughts on “Kehadiran Seseorang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s