Fiksi

Seratus Hari Kepergian

Alif tersungkur di sudut ruang tamu. Tak ada air mata di wajahnya. Mungkin sudah terkuras habis semenjak seratus hari yang lalu.

“Sudah lah, Nak. Sampai kapan kau akan meratapi kepergiannya?” Ahmad, Sang Ayah, mengelus pundak Alif dengan penuh kasih sayang.

Bibir Alif masih membungkam. Ia tahu bahwa hari ini tepat seratus hari kepergian sosok yang sangat ia sayangi. Sosok yang selalu menemaninya setiap hari tanpa kecuali.

“Ayah, kapan ia bisa hadir kembali di tengah-tengah kita? Aku sudah dan selalu merindukannya.” Mungkin Alif sudah gila. Mengharapkan kembali sesuatu yang telah pergi.

Sang Ayah hanya tersenyum mendengar pertanyaan anak semata wayangnya itu. Terkadang, kehilangan akan membuat seseorang bertingkah menjadi seperti anak kecil.

20 tahun Ahmad membersamai Alif menapaki kehidupan, ia tak pernah melihat putra-nya se-terpuruk ini. Ahmad paham. Paham sekali.

Kali ini Alif membiarkan wajahnya dihujani air mata. Alif heran dengan dirinya sendiri. Sejak kapan ia menjadi mudah sedih seperti ini? Di mana Alif yang dulu? Alif yang enggan menampakkan raut kesedihan meski hatinya penuh sayatan?

Sepuluh tahun yang lalu, Alif masih terlalu kecil untuk menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya tak bekerja lagi semenjak dokter mendiagnosanya terkena penyakit Xeroderma pigmentosum, penyakit langka yang membuat penderitanya sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet. Terkena sedikit saja sinar matahari, kulit si penderita dapat rusak dan merasakan sakit yang luar biasa. Oleh karena itu, Alif-lah satu-satunya yang dapat diharapkan untuk menopang perekonomian keluarga.

Sejak pagi buta ia sudah bersiap dengan koran-koran berada di genggaman. Siap untuk dijual ke orang-orang yang ia temui. Peluh bercucuran tak lantas menyurutkan semangatnya untuk tetap melangkahkan kaki menuju bangunan sederhana, tempat di mana Alif mengenyam pendidikan dasar. Selepas pulang sekolah, Alif bergegas ke Toko Buku Impian untuk membantu pemilik toko berjualan. Meski semua pekerjaan yang dilakoninya hanya membuat dirinya diberi upah yang tak seberapa, hal itu tak menyurutkan semangatnya. Setidaknya ada uang yang dihasilkan. Pikir Alif saat itu. Rutinitas itu Alif lakukan selama hampir 8 tahun hingga akhirnya Alif tetap bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dan membiayai keluarganya meski hanya sebatas ‘cukup’.

“Alif, kau kan masih bisa menabung untuk membeli sepeda yang baru. Tak usah sedih begitu.” Wati, Sang Ibu, mencoba menenangkannya.

“Ibu, sungguh pencuri itu tidak mengerti arti perjuangan. Alif bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk membeli sepeda itu, Ibu… Untuk kendaraan Alif berkuliah.”

“Ikhlaskan saja, Nak. Biarkan Allah yang membalasnya.”

Seratus hari yang membuat Alif belajar mengikhlaskan apa yang telah diperjuangkan.

(Cerita ini diikutkan giveaway contest  http://www.doddyrakhmat.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s