Non Fiksi

Bertebarnya Orang Baik

“Faraaaaaah… Maaf aku nggak bisa pergi pagi ini. Ada sesuatu yang bikin aku nggak bisa pergi.”

Sebuah pesan singkat dari Gio tiba-tiba membuatku lemas. Aku mengintip jam di tanganku yang telah menunjukkan pukul 07.35 sedangkan Writing Class Muslimah (WCM) yang diadakan PW Salimah DIY dimulai pukul 08.00. Parahnya, aku belum tahu pasti di mana letak MMTC, tempat WCM dilaksanakan. Bagaimana tidak lemas, sedari tadi aku menanti kedatangan Gio untuk berangkat bersama menuju MMTC. Hujan pun kami tunggu hingga reda. Sempat terlintas pikiran untuk menggagalkan niatan berangkat ke sana karena aku tak ada kendaraan. Akan tetapi, aku ingat kembali bahwa sudah cukup lama aku ber-azzam untuk mengikuti WCM. There’s a will there’s a way. Fortunately, aku sedang berada di kos lama. (niatnya sih) Menunggu Gio disana sembari membantu kawan kos lamaku, Ayu, bersiap untuk pindahan kos. Karena Gio pada akhirnya tidak bisa berangkat, satu-satu harapanku hanyalah Ayu. Dengan sedikit merayunya, akhirnya ia bersedia mengantarkanku ke MMTC. Alhamdulillah… Ayu memang sahabat terbaikku di kos. Ia selalu bersedia jika kumintai tolong meskipun ia menjadi sangat menakutkan jika yang dihadapinya adalah buku pelajaran. Belum setengah tahun kami kenal, tetapi rasanya sudah bertahun-tahun lamanya kami berteman. Sulit menemukan teman seperti ini. Oke, setelah menyatukan barang-barang yang Ayu akan pindahkan nantinya, barulah kami berangkat.

Aku dan Ayu sampai di MMTC sekitar pukul 08.20 dengan bantuan GPS. Wah…telat. Pikirku. Qadarullah…ternyata acaranya molor 30 menit sehingga pukul 08.30 baru dimulai. Alhamdulillah…semoga kelancaran ini merupakan salah satu bentuk jika Allah ridho. WCM dimulai dengan tilawah kemudian dilanjutkan pemaparan oleh Ustadzah Miftahul Jannah mengenai “Kenapa Kita Harus Menulis?”. Mungkin di cerita kali ini, aku takkan menjelaskan secara detail mengenai WCM, melainkan lebih kepada hikmah yang aku dapatkan. Tibalah saatnya pembagian doorprize. Teh Dery mengeluarkan syarat untuk dapat mendapatkan salah satu hadiah. Mulai dari peserta yang datang paling awal hingga warna barang-barang peserta. PW Salimah DIY memang menggunakan warna ungu sebagai warna icon­nya sehingga barangsiapa yang pada hari ini menggunakan barang-barang termasuk pakaian berwarna dominan ungu, akan mendapatkan hadiah. Ternyataaaaa… aku adalah satu-satunya peserta dengan warna ungu terbanyak. Dari kerudung, baju, bros, deker, hingga kaos kaki warnanya ungu semuaaa. Alhamdulillah…dapet rezeki yang setelah dibuka ternyata kerudung syari bagus banget yang kukira jika dijual akan berharga mahal. Amal jariyah yang hanya mereka harap. Kurasa begitu. Bukan kebetulan, kan?

Banyak sekali ilmu yang aku dapat sejak pukul 08.30 hingga pukul 15.00. Tak terasa WCM telah berakhir. Aku dilanda kebingungan lagi. Ayu tidak bisa menjemputku. Sedangkan aku enggan naik taksi. Ojek pun tak ada di sana. Akan tetapi, aku selalu percaya bahwa pertolongan Allah itu dekat asalkan kita mau berikhtia. Setelah sholat ashar, aku beranikan diri bertanya kepada salah seorang mbal-mbak yang ternyata bernama Novi, mahasiswa pascasarjana UNY.

“Mbak…mbak ke sini naik apa?”

Sungguh, malu sekali rasanya. Belum kenal sama sekali langsung menodongnya dengan pertanyaan seperti itu.

“Naik motor.” Setelah itu baru kami memperkenalkan diri masing-masing.

“Mbak, boleh minta tolong anterin ke kos?”

“Daerah mana?”

“Deresan, Mbak…deket masjid nurul ashri.”

“Oh iya, tau. Yuk…”

“Bener nggakpapa? Maaf ya mbak…”

“Iya, ayuk!”

Kemudian benar, Mbak Novi mengantarkan aku hingga depan kos. MasyaAllaah…masih banyak orang baik di dunia ini. Malu…malu sekali rasanya. Malu jika aku ini hanya manusia yang datang saat butuh saja. Tidak tidak. Aku tak mau seperti itu. Salah satunya cara membalas kebaikan orang lain adalah dengan mendoakannya dan berbuat baik kepada orang lain juga. Setidaknya itu yang baru bisa aku lakukan.

Tak ada satu jam beberes barang yang akan dibawa pulang ke Boyolali, lagi-lagiaku kebingungan. Tak ada kendaraan ke stasiun. Dengan muka tak tahu malu, aku mengetuk pintu kamar depan kamar kosku. Yang aku pun tak tahu nama penghuninya karena aku belum lama menempati kos itu.

“Mbak…maaf mengganggu. Mbak lagi sibuk ya?”

“Oh eh enggak kok…Cuma ngantuk aja habis tidur.”

“Mau minta tolong anterin ke stasiun, Mbak. Bisa nggak ya?”

“Sekarang?”

“Iya, Mbak.”

“Duh, mbak harus jemput adek mbak dulu.”

“Oh ya sudah mbak, aku naik ojek aja. Makasih mbak.”

Parahnya, aku belum tahu siapa nama mbaknya. Astaghfirullaah…

Oke, setelah ‘ditolak’, aku memutuskan untuk naik ojek. Aku meminta nomer ojek dari Grace, kawan kos lamaku. Ternyata…Bapak ini bukan Bapak tukang ojek biasa. Pak Sur namanya. Selama di perjalanan, hampir kami tak pernah berhenti ngobrol. Pak Sur bercerita sendiri bahwa ia bukan tipikal orang yang betah diem selama mengantar pelanggannya. Alhasil, aku diberikan banyak sekali petuah. Seperti aku harus rajin belajar, suruh selalu mengingat alasan orangtua menyekolahkan anaknya, menjaga pergaulan, dan masih banyak lagi. Aku merasa sangat beruntung dipertemukan oleh Bapak itu karena aku tak hanya sekedar menumpang, melainkan aku juga mendapat ilmu yang sangat berharga.

Pukul 18.41, kereta prameks berhasil memboyong diriku menuju tanah kelahiran, membungkus segala pelajaran yang hari ini aku dapatkan. Pelajaran yang membuatku mengingat kembali bahwa masih banyak orang-orang baik di sekitar kita. Percayalah. Semangat menjadi orang baik! 😀

Boyolali, 7 Februari 2015

11:40 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s