Uncategorized

Dakwah

Sumber: google.com
Sumber: google.com

Dakwah terbaik adalah melalui perilaku, ketika bibir sudah tak mampu menasihati.

Dakwah itu menuntun, bukan menuntut. Seperti Kak Febrianti Almeera katakan.

Yap.

Memaksa? Jangan harap itu dinamakan dakwah. Bahkan, Rasulullah pun tak dapat membuat pamannya masuk islam.

Amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak menuju kebaikan, mencegah kemunkaran. Bukan memaksa menuju kebaikan, kan? 🙂

Mengajak menuju kebaikan sangat diperlukan hati yang baja karena tugas ini tidaklah mudah. Barangkali cacian dan makian akan sering didapat. Ditolak mentah-mentah lebih sering lagi.

Ketika ikhtiar telah sempurna kita lakukan, lalu tawakal-kan. Cukup. Usaha kita hanya sampai batas mengajak yang maksimal, selebihnya, kita doakan supaya Allah segera membukakan pintu hatinya. Hanya Allah-lah Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Kun Fayakun. Preman pun dapat menjadi tokoh islam berpengaruh ketika Allah sudah berkehendak.

Sama halnya dengan prinsip dan pemikiran. Sama sekali bukan hak kita untuk memaksakan orang lain harus mempunyai pemikiran yang sama dengan kita. It is a big failure if we do that.

Jangan dikata dakwah itu hanya ceramah. Itu konsep yang salah kaprah. Perilaku dan tutur kata yang baik adalah dakwah. Pun tulisan yang baik juga menjadi ladang dakwah.

“Aku capek kak, udah ribuan kali aku ajak dia pakai kerudung, dianya nggak mau. Apalagi kerudung syar’i. Lebih-lebih datang ke kajian. Boro-boro, Kak…”

Jika nasihat atau ajakan sudah tak mempan, cukup diri sendiri yang menjadi cerminan kebaikan. Hati orang lain kita pasrahkan kepada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati semua insan.

Cukup pakai kerudung sesuai syariat,

Sopan dan santun dalam bermuamalat,

Saling tolong menolong sesama umat,

Tebar kebaikan di seluruh penjuru tempat,

dan jangan lupa membagi ilmu barang hanya satu ayat,

karena yang membedakan setiap manusia berilmu adalah kebermanfaatan ilmu itu sendiri.

Banyak sekali orang-orang awam yang sedang ingin berhijrah, mengurungkan niat berhijrahnya melihat orang-orang islam yang mungkin bagi mereka ekstrem, orang-orang islam yang mungkin bagi mereka terlihat menutup diri, mereka takut meski hanya sekedar berucap satu kata. Sayang sebetulnya, karena ilmu yang ada pada orang-orang islam itu menjadi tertunda untuk dibagi.

Kepada siapa kita akan sampaikan kebaikan, kita harus paham medannya. Anak kecil kah? Remaja kah? Dewasa kah? Orang tua kah? Jangan sampai kok anak kecil kita suguhi langsung hadits-hadits atau terjemahan Al-Qur’an tanpa diolah kembali dengan bahasa yang ringan, yang mudah diterima. Mungkin lebih baik kita aplikasikan dalam permainan.

Ini bukan tentang seberapa tingginya ilmu, melainkan tentang sampai mana kebermanfaatan ilmu.

Jadilah dirimu sendiri ketika berdakwah. Cukup lakukan apa-apa yang baik, yang lurus. Meski hanya ‘sekecil’ mengambil duri di jalanan. Kemudian, orang lain akan melihat perilakumu, bukan dirimu.

Kita tidak akan pernah tau bahwa sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, dapat menginspirasi orang lain, dapat berarti sekali bagi orang lain. Dakwah terbaik adalah melalui perilaku, ketika bibir sudah tak mampu menasihati. Terus berbuat baik… sampai mati. Hal jazaaul ihsaan illal ihsaan. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.

#NoteToMySelf

Boyolali, 21 Juli 2015

5 Syawal 1436 H at 8:53 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s