Uncategorized

Jalan Hijrah

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Merasakan kembali, betapa indahnya skenario kehidupan yang Allah berikan kepada diri ini. Tak henti-hentinya Dia curahkan kasih sayang-Nya untuk diri yang penuh salah dan khilaf ini. Betapa besarnya kasih sayang Allah untuk hamba-hambaNya…

Tak pernah terbesit sedikitpun di dalam benak, aku akan menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Mahasiswi. Tak pernah sekalipun… Bahkan hati ini pernah menolak, dulu. Teringat sebuah percakapan dengan seorang kakak tingkat di awal perkuliahan dahulu, kurang lebih seperti ini:

“Mbak, belajar apa?”

“Belajar buat ujian asrama. Hehe.”

“Lho? Ada ujian juga? Bukannya Mbak lagi UTS juga?”

“Hehe… iya beginilah.”

Hati ini sempat mengucap aih mending belajar buat UTS lah ya. Alih-alih, Mbaknya itu memang seorang santri di Pondok Pesantren Asma Amanina, Yogyakarta. 2 tahun lebih tua dari aku. Meski di awal memasuki masa perkuliahan sempat ingin masuk pondok seperti itu, namun semakin lama, perasaan itu semakin terkikis (hampir) tak tersisa. Pun ketika Pondok Pesantren Mahasiswi yang lain membuka pendaftaran santri baru saat semester 3, hati ini masih saja belum ikhlas sepenuhnya untuk ikut mendaftar. Terlalu banyak pertimbangan hingga datanglah penyesalan. Ah, begitu lemahnya iman ini…

Namun, sesungguhnya hanya Allah-lah yang dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Semakin berlalunya hari, seiring terlewatinya detik-detik waktu, semakin banyaknya aktivitas di kampus, benar-benar membuat diri ini lelah. Sungguh, lelah. Rasanya seperti ilmu dunia saja yang dikejar-kejar. Laporan-proposal-laporan-proposal-laporan-proposal. Capek. Rasanya keberkahan waktu seperti tak lagi bisa didapatkan. Hingga akhirnya aku sampai di suatu titik, aku betul-betul menyadari bahwa aku butuh ilmu agama. Ilmu yang kekal abadi pembawa ke syurga-Nya. Tidak sekedar kajian-kajian tematik biasa. Amanah yang berada di pundakku, semakin menguatkan aku untuk bergegas berhijrah lagi, lagi, dan lagi. Rasanya malu… malu kepada-Nya. Jika aku dengan amanah ini tak dapat memberikan ilmu sedikit pun, lalu untuk apa? Hingga akhirnya kemauan kuat mengakar dalam hati. Aku harus masuk asrama. Pondok Pesantren Mahasiswi. Kefuturan ini tak bisa dibiarkan semakin lama.

Alhamdulillah, lagi-lagi atas skenario indah-Nya, aku berada di Yogyakarta, yang tak cukup susah untuk mencari Pondok Pesantren Mahasiswi (PPMi). Di semester 4 aku kuliah, ada 2 PPMi yang membuka pendaftaran. Aku bertekad mendaftar PPMi yang membuka pendaftaran lebih awal. Dan ternyata PPMi itu adalah PPMi Asma Amanina. Aku bergegas mempersiapkan segala berkas sesegera mungkin untuk diserahkan.Aku berusaha sebaik mungkin dalam melalui setiap tahapan penerimaan santri Asma Amanina angkatan VI. Sungguh, meski aku sangat ingin berada di sana, aku tak berharap apapun selain yang terbaik menurut-Nya. Manusia mah mampunya ikhtiar saja kan, ya? 🙂

Alhamdulillah wa innalillaah, Allah perkenankan diri ini lolos hingga tanggal 18-19 Juni 2016 dapat mengikuti Dauroh Santri Asma Amanina Angkatan VI :’) Bukan lagi calon santri. Ini amanah yang tak mudah pula bagi seorang Farah yang belum pernah  nyantri sebelumnya. Sekalipun ada yang bilang aku lebay, yaaa sok atuh. Aku gak peduli. Yang namanya mau menuntut ilmu ngapain malu?

Bukankah tidak ada kata terlambat untuk belajar?

Bukankah doa anak yang shalihah untuk orang tuanya dikabulkan oleh Allah SWT? :’)

Bukankah kesempatan ini mahal harganya? Maka nikmat Tuhan yang mana yang hendak kau dustakan, Far? :’)

Jalan hijrah adalah jalan yang takkan pernah berakhir… hingga hembusan nafas terakhir. Hijrah perlu perjuangan! Tak ada perjuangan yang tak mudah. Jangan lupa Far untuk selalu meluruskan niat lillaahi ta’ala, ikhlas, selalu memohon pertolongan Allah, bersungguh-sungguh, dan jangan putus asa.

“Ikhlas itu… bukan perkara berat atau ringannya dalam beramal. Melainkan, ikhlas itu adalah tentang orientasi. Mengedepankan siapa? Mengutamakan Allah atau diri kita pribadi? Ketika mengedepankan Allah, di situlah letak keikhlasan.” -Ustadz Dwi Budi

Bismillah, ya Allah jika takdir ini adalah yg terbaik menurut Engkau, berikanlah jalan dalam setiap urusan menuju ridho-Mu. Berikanlah kekuatan dan kesabaran kepada kami untuk menempuh jalan ini hingga husnul khotimah. Jika takdir ini mempertemukan kami berkumpul bersama dengan orang-orang yang mengharap rahmat dan ridho-Mu, eratkan dan kuatkanlah ukhuwah di antara kami. Satukan hati-hati kami dalam naungan cinta dan kasih sayang-Mu ya Allah (Asma Amanina, 2016). Aamiin♥♥

pp

 Asma Amanina Angkatan VI
Sholihah, Prestatif, Haroki
-Tegar Hingga di Puncak Harapan-
 *Tulisan ini untuk pengingat diri saya pribadi. Namun, alhamdulillah jika ada manfaatnya bagi pembaca. Sesungguhnya hanya Allah yang dapat mendatangkan manfaat.*
Yogyakarta, 19 Juni 2016
Pukul 22:00
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s