Non Fiksi

Bersabar dalam Proses

Bismillahirrahmanirrahim

efa88b7db88d6506fda08c4aedc2eb1a

“Pasti ada makna baik di setiap segala yang terjadi.

Yang akan terpahamkan sekarang, besok, atau nanti”

-Febrianti Almeera

 

Tau-Paham-Menjalani. Sebuah alur penerimaan akan sesuatu hal yang hampir semua  orang dapatkan. Sebuah proses panjang yang banyak sekali dialog pribadi di dalamnya. Dialog dengan diri sendiri lebih tepatnya; perdebatan apakah sesuatu itu adalah hal yang baik atau buruk.

Tau; tahap pertama yang akan didapatkan seseorang saat menerima sebuah hal baru, katakanlah sebuah prinsip baru atau sebuah kebaikan. Ia hanya sebatas “Oh ya saya tau ini baik.” Sekian. Lalu ia abaikan kemudian. Tidak ada respon yang berarti. Namun, tak sedikit orang yang tetap menjalani dengan berbekal modal “tau”. Akan tetapi, orang yang menjalani sesuatu hanya bermodalkan “tau”, secara umum hanya bersifat sementara. Tidak merasuk di dalam kalbu paling dalam kalau bahasa puitisnya.

Paham; tahap setelah tau. Dari tahap tau naik menjadi tahap paham membutuhkan proses yang tak sebentar. Seperti halnya,“Aku tau aku harus kuliah. Kuliah itu baik, karena disuruh orangtua. Tapi aku gak tau apa pentingnya orangtua menyuruhku harus kuliah.”  Jadi, kuliah hanya sekedar kuliah. Atau lebih sederhananya lagi,“Aku tau aku hidup, tapi kenapa aku harus hidup? Apa pentingnya aku hidup?” Kalau hidup hanya sekedar hidup, makhluk hidup selain manusia pun juga hidup. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab seiring dengan tempaan kehidupan terhadap diri kita.

Menjalani; tahap terakhir setelah tau dan paham. Jika tempaan kehidupan itu berhasil membawa kita ke tahap paham, maka tak ada keraguan lagi untuk menjalani sesuatu yang awalnya kita hanya sebatas “tau” saja. Karena apa? Karena kita tau alasan kenapa kita melakukan hal-hal yang baik itu. Tak terbesit sedikitpun lagi keraguan, karena pemahaman itu telah mengakar di dalam hati 🙂

Jika kita tidak tau kenapa kita melakukan hal baik yang sedang kita lakukan sekarang, mari kita ingat bersama bahwa:

“Allah pasti memberi makna baik di setiap segala sesuatu yang terjadi. Yang akan terpahamkan sekarang, besok, atau nanti”

Ketiga tahapan itu sebetulnya hanya tentang bersabar dalam proses… dan keikhlasan dalam penerimaan. Terkadang kita hanya perlu diam, meresapi, dan menelisik sisi-sisi baik untuk memahamkan apa yang kita tau; tanpa perlu banyak bertanya. Jika kita adalah termasuk orang yang suka bertanya, mari bertanya pada orang yang kita percaya tepat untuk ditanyai sehingga membantu kita menaikkan tingkatan dari tau menjadi paham kemudian ikhlas menjalani. Namun, perlu diingat, jangan menaruh harap yang besar kepada orang yang kita tanyai karena jika tidak sesuai dapat menimbulkan rasa kecewa. 🙂

فَاصْبِرْصَبْرًاجَمِيلًا

Fashbir shabran jamiila

“Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik.”

(QS. Al-Ma’aarij [70] :5)

Diri ini belum baik. Maka, mari bersama berhijrah tiada henti menuju kebaikan dengan kepahaman yang mengakar, supaya ikhlas berkibar dalam sanubari, dan menciptakan keberkahan yang hakiki. Aamiiin.

 

Syahdu dalam rintikan hujan

Yogyakarta, 24 November 2016

Pukul 00.39

Di Rumah Cahaya Asma Asmanina

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s