Non Fiksi

Monolog Hati

images
Sumber: ummi online

Bismillahirrahmanirrahim…

Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.

Ahad, 9 April 2017

Pagi itu kumulai hari dengan ragu.

“Ammah, tashih* diadain berapa bulan sekali ya?”

“Afwan dek, ‘ammah kurang paham.”

Begitu jawaban pemandu asramaku.

Hmm. Lantas membuatku semakin ragu untuk melangkah maju. Namun, segera kuabai karena agenda lain pagi itu telah menunggu. Meski ragu, kumasukkan juga buku jilid ghoroibul qur’an* ke dalam tas. Entah akan kubaca atau tidak. Agenda pagi itu selesai di waktu dzuhur.

Ya… Keraguan itu muncul kembali kepermukaan hati. Pukul 13.00 seharusnya aku sudah di Qur’an Training Center (QTC) untuk mengantri ujian tashih. Tetapi…

Aku kan belum ujian Al-Qur’an. Jilid gharib pun baru kupelajari sedikit beberapa hari yang lalu, apalagi jilid tajwid… Dua pekan istirahat total karena sakit membuatku ketinggalan kelas tahsin di asrama. Masa iya aku maju ujian tashih? Temen-temen yang lain udah hampir selesai jilid tajwid bahkan ada yang sudah selesai dan masuk tahap tahfidz. Da aku mah apa… Huft. Apa aku ujian bulan depan aja ya? Sekalian menyelesaikan jilid ghoroibul qur’an dan tajwid? 

Menjelang adzan dzuhur,

“Han, yakin berangkat sekarang?”

“Ayuklah.”

Keraguanku masih ada saat waktu dzuhur tiba. Padahal pukul 13.00 aku harus ujian. Maju atau mundur?

Selama perjalanan menujut QTC, aku bermonolog dengan diriku sendiri. Terus menerus…

“Far, masa iya kamu bakal nyerah sebelum perang tiba?”

“Far, kamu nggaktau hasilnya kalau nggak nyoba dulu. Perkara lulus atau nggaknya urusan belakangan. Coba dulu. Jangan jadi orang gagal sebelum bertanding.”

Dan sebagainya.

Tak berhenti sampai disitu. Di tempat QTC, sembari tanganku memegang jilid ghoroibul qur’an dan mulutku melatih bacaan gharib, hatiku masih bermonolog ria.

“Far, inget kata-kata ‘Ammah Vika. Kalau niatmu benar, maka Allah akan mudahkan segalanya. Inget kejadian ‘Ammah Vika yang juga baru sampai jilid ghoroibul qur’an bagian ‘Anaaba’ tetapi lulus tashih. Beda tipis far. Ayo luruskan niat! Untuk Allah. Untuk Umat. Mengajarkan Al-Qur’an untuk umat!”

“Far, kamu yakin kan kalau pertolongan Allah itu dekat. Percaya aja. Meski kamu Al-Qur’an pun belum ujian, jika lulus tashih adalah baik bagimu, maka Allah akan mudahkan segalanya. Percayalah itu, Far.”

Maka setelah itu rasa percaya diriku tumbuh melesat, keraguan hilang tanpa sisa. Aku tak peduli lagi akan lulus atau tidak. Lakukan yang terbaik untuk niat yang benar. Hasil biarlah Allah yang menentukan.

Aku mendapat urutan ke-14. Urutan ke-2 untuk rombongan asrama.

Sebelum ujian tashih, aku harus melalui tahap ujian pra-tashih terlebih dahulu. Jika lulus pra-tashih baru boleh ujian tashih.

Pra-tashih nomor urut 14.

Deg! Lantas aku merapal doa Rabbisyrahli sadri wayassirli amri wahlul ‘uqdatammillisani yafqahu qawli.

Ujian pra-tashih selesai dan lulus… Segala puji hanyalah milik-Mu ya Rabb. Allahu akbar. Ustad berpesan,”Penguji tashih lebih teliti dari saya, jadi hati-hati.”

Huuuufh…

Tak berselang lama, giliranku maju ujian tashih. Ada pemandu tahsinku di sana. Selama beberapa hari yang lalu aku selalu berkata,”Ammah takut gharib….”

Saat aku hendak maju ujian tashih, aku menatap beliau dan beliau berkata,”Pasti bisa!”. Langkah kakiku semakin mantap. Kemudian kurapal doa yang sama…

Ujian tashih dimulai…Sekilas aku melihat catatan penguji kalau hanya satu-dua yang lulus benar-benar lulus. Aku tak peduli. Aku hanya fokus membaca sebagaimana aku mengaji biasanya, menerapkan pelajaran di semua jilid (kecuali gharib dan tajwid karena belum sampai :”. Hanya berdasar ilmu cetek sebelumnya saja)) yang metode tahsin ummi berikan selama hampir 9 bulan. Semua diuji. Makharijul huruf, panjang pendek, gharib, tajwid, fawatihuswar. Semuanya.

Hingga aku selesai membaca semua yang penguji minta. Kemudian aku tak percaya… Sangat tak percaya… Ustadzah menulis di kertas tashihku dengan: “Lulus” dan hampir tanpa catatan! (catatannya hanya tidak teliti). Allahu akbar! Alhamdulillahirabbil’alamin… kok bisa ya? Bisa lah. Allah yang gerakkan bibirmu, Far. Kamu mah ngga ngapa-ngapain. Allah…

Aku menitikkan air mata yang hendak kusembunyikan. Menyalami pemandu tahsinku dan mengucapkan terima kasih banyak… Sampai di perjalanan pulang pun aku masih menitikkan air mata karena takjub dengan takdir Allah ini….karena dengan lulus tashih itu berarti aku langsung ke tahap tahfidz sembari menyelesaikan jilid gharib dan tajwid. Allah mudahkan jalan lebih cepat menuju kesana. Allahu akbar…karena dengan lulus tashih, aku harus lanjut ke tahap berikutnya –> sertifikasi metode tahsin UMMI yang outputnya adalah pengajar tahsin. Allah… Aku tak menyangka proses ini begitu cepat. Namun amanah baru ini juga membuatku khawatir karena pertanggungjawabannya tak main-main. Memperbaiki bacaan Al-Quran adalah proses seumur hidup…begitupun juga dengan menghafal Al-Qur’an. Madal hayah.

Bismillah..semoga niat selalu Allah bantu untuk luruskan dan benarkan supaya tak ada yang tersiakan, supaya penuh kebarakahan. Dan juga semoga Allah terus tumbuhkan dalam hati kita semangat belajar Al-Qur’an, mengamalkannya, dan mengajarkannya ke orang lain. Amal jariyah! Bekal abadi untuk akhirat nanti. Aamiin. ☺

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Hikmah dari kejadian siang itu:

1. Innamal a’malu binniyyat.  Wa innama likulliri immannnawa. Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sungguh kita akan mendapatkan sesuai apa yang kita niatkan.

2. Tak perlu risau dan khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi. Kekhawatiran yang berlebihan akan menjauhkan kita dari Allah; karena sesungguhnya pertolongan Allah lebih dekat dengan urat nadi. 😊

3. Allah memberikan jalan keluar jika kita penuhi dua syarat: Niat yang benar dan tekad yang kuat.


*tashih: ujian bacaan Al-Qur’an

Metode Tahsin UMMI terdapat 8 jilid. Jilid 1-6, Al-Qur’an, jilid ghoroibul qur’an, dan jilid tajwid. Setiap akan naik jilid kami harus melalui ujian dulu ke koordinator tahsin asrama. Setelah selesai jilid 6, maka masuk tahap Al-Qur’an untuk menerapkan semua ilmu di jilid 1-6. Jika lulus, baru masuk ghoroibul qur’an. Metode ini diorientasikan memiliki kemampuan mengajar tahsin yang baik dengan adanya sertifikasi dari Ummi Foundation dan magang nantinya.


Yogyakarta, 17 April 2017

Pukul 00.00

Di Rumah Cahaya Asma Amanina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s