Fiksi

Terima kasih, Afzar.

IMG-20170708-WA0013“Zar… Aku ingin kalau kita nikah nanti foto pre-wedding-nya di sawah. Kita pakai pakaian petani gitu. Pasti lucu.”

“Hmm… ibuku nggak setuju kalau aku menikah dengan pacarku. Ayahku juga nggak suka ada foto pre-wedding.”

“Lho, kenapa?”

“Ya nggak suka.”

“Kok gitu sih. Huft.”

***

Sebuah obrolan dewasa bagi dua orang bocah seragam putih-biru yang sedang dihinggapi perasaan merah jambu. Ah, betapa lingkungan mempengaruhi pemikiran bocah ingusan yang seharusnya memikirkan kelanjutan sekolahnya atau memikirkan hal bermanfaat lainnya. Sayangnya, lingkungan Zayna belum mendukung itu. Ia terlanjur basah menggantungkan harapan yang tinggi pada Afzar, Sang Kekasih.

Afzar dan Zayna sukses membuat teman-temannya iri setengah mati pada hubungan yang mereka jalin sejak kelas 2 SMP. Mereka ibarat amplop dan perangko, dimana ada Afzar disitu ada Zayna. Begitupun sebaliknya. Bagi Zayna, Afzar adalah segalanya. Bagi Afzar, Zayna adalah perempuan yang sempurna.

***

“Zayna! Kenapa itu kerudungnya dibelit-belit nggak jelas?! Pakai kerudung itu menutup dada!”

Zayna hanya membalas kemarahan Afzar dengan linangan air mata dan menjadi tontonan satu kelas saat perpisahan SMP.

***

“Zayna! Bodoh banget kamu, di sini masih banyak laki-laki kok main lepas kerudung aja!”

Lagi-lagi Zayna harus menelan pahitnya menerima kemarahan Afzar di Hari Raya Idul Adha dan tidak ada jawaban selain air mata. Zayna benar-benar tidak tahu.

Zayna, pokoknya kamu harus pakai rok dan kaos kaki terus ya!”

“Ih, kok kamu ngefans sama Kahlil Gibran sih?! Tau nggak di Indonesia ada penulis Islam Best Seller lho. Hayo siapa?”

Zayna hanya menelan ludah. Membaca saja ia tak pernah.

“Habiburrahman El-Shirazy! Huuu. Payah ah gak tahu.”

Dan sebagainya.

Ah, Afzar. Kau ini.

***

“Zar, aku bingung nih. Aku ikut ekstrakulikuler apa ya?”

Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Afzar dan Zayna berhasil mempertahankan hubungan mereka hingga satu tahun tepat di awal mereka memasuki ranah putih-abu.

“Ikut klub menulis dan rohis aja, Na. Oke tuh kayaknya.”

“Hmm. Gitu ya? Ok!”

Zayna sering meminta pendapat pada Afzar, karena ia yakin bahwa pendapat Afzar selalu lebih baik darinya. Zayna melihat orangtua Afzar adalah orang yang paham agama dengan baik, mungkin itu yang melandasi Afzar memberikan rekomendasi untuk ikut rohis SMA, pikir Zayna. Zayna pun mengikuti saran Afzar dengan semangat.

***

Lima tahun setelah percakapan singkat itu…

Zayna memandangi langit berwarna orange-kemerahan di beranda tempat tinggal barunya. Ia sedang rindu bercengkerama dengan senja. Dia yang hanya menjadi perantara pergantian siang dan malam; tak terlalu dipedulikan. Namun, dia selalu ada. Ia tak pernah cemburu dengan cerahnya langit siang ataupun redupnya langit malam. Yang ia tahu, ia hanya ikhlas mengantarkan siang pulang dan menjemput malam datang. Begitu setiap hari; pun ia tak pernah mengeluh. Senja selalu mempunyai makna yang indah bagi Zayna.

Senja mengantarkan Zayna pada seseorang yang menyinggahi hidupnya lima tahun lalu selama hampir 1,5 tahun lamanya. Seseorang yang mengajarkannya banyak sekali hal yang ia dulu masih bodoh dalam memahaminya. Semua percakapan yang ia alami dengannya, baru ia pahami lima tahun kemudian. Meski, dulu ia harus merelakan air mata untuk membersamai rasa ikhlas dalam meninggalkannya seutuhnya. Meninggalkan seseorang yang dulu ia berhasil merangkai cita-cita yang tinggi bersamanya.

Zayna kemudian mengerti kenapa ayah Afzar tidak menyukai pre-wedding, karena sebelum ada janji yang mengguncang langit (akad nikah) maka status mereka masih haram untuk bermesraan (pre-wedding identik dengan pose yang mesra). Pun Ibu Afzar yang tidak setuju jika Afzar menikah dengan perempuan yang sudah dipacarinya sejak lama. Zayna mengerti, untuk suatu hubungan yang Allah berkahi tentu harus melalui cara yang Allah suka. Sedangkan pacaran, tidak ada satupun bagian yang Allah suka, karena dengan pacaran, Allah menjadi dinomorsekian-kan. Allah tidak suka diduakan…

Zayna kemudian mengerti bahwa Allah telah mengirimkan surat cinta untuk muslimah mengenai bagaimana cara menutup aurat yang benar dalam Al-Quran An-Nur :31 dan Al-Ahzab :59.

Zayna kemudian mengerti bahwa Islam mempunyai banyak sekali tokoh-tokoh yang dapat dijadikan sebagai teladan, sebagai inspirasi kebaikan. Dan buku, kini menjadi sahabat baik Zayna.

Zayna kemudian mengerti kenapa Afzar memintanya mengikuti rohis SMA, yang ternyata menjadi ‘gerbang kebaikan’ berikutnya.

Zayna kemudian mengerti, tidak ada satupun takdir yang luput dari-Nya. Setiap episode kehidupannya selalu memiliki makna tersendiri. Dan makna terbaik baginya adalah setiap episode yang membuatnya semakin mencintai Allah, Sang Pemilik Hati.

Adalah kau Afzar, yang Allah menjadikanmu perantara untuk membuatku mengenal-Nya dan mencintai-Nya lebih lebih lebih dalam lagi.

Zayna tak pernah ingin menghina masa lalunya, karena masa lalu baginya adalah sebuah pelajaran berharga yang menjadi bagian puzzle yang menyusun hidupnya saat ini.

Ikhlaskan mereka datang, barangkali mereka adalah cara-cara Allah dalam merubah hidup menjadi lebih baik. Ikhlaskan mereka yang singgah lalu pergi, barangkali ada kebaikan-kebaikan lain yang menati.

Terima kasih, Afzar. Kau telah menjalankan tugasmu sebagai perantara Allah dengan baik. Kini saatnya aku melanjutkan apa yang aku yakini benar.

Adzan maghrib segera menyadarkan Zayna untuk bersegera memupuk kembali rasa syukurnya kepada Allah dengan sujud terbaiknya.

 

#30DWCJilid7 #Day1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s