Fiksi · Non Fiksi

/le·la·ki/ dan /pe·rem·pu·an/

images-06

“Zayna, maaf aku menjadi fitnah bagimu.”

Sebuah pesan singkat dari Azzam sampai di layar handphone Zayna. Zayna tak peduli. Air mata Zayna terlanjur membanjiri pundak Aqilla, sahabatnya. Zayna tidak menyangka pertemanan yang ia anggap biasa dapat menjadi jurang dosa baginya.

“Tenang, Na. Azzam adalah lelaki shalih. Aku rasa ia tak mungkin memiliki niat yang buruk. Bukan salah kalian. Ini semua hanya tentang pandangan orang-orang yang salah tentang kalian.”

***

Azzam dan Zayna dipertemukan di dalam sebuah komunitas menulis yang bergengsi di Bandung yaitu Pena Langit. Pena langit memiliki banyak project yang mengharuskan seluruh anggotanya untuk bekerjasama dalam tim, termasuk Azzam dan Zayna. Berkat kelihaian Azzam dan Zayna dalam mengkonsep sebuah acara, mereka sering disatukan di dalam divisi yang sama dengan Azzam sebagai project leader-nya.

Sayangnya, orang-orang melihat Azzam dan Zayna saling memiliki ‘rasa’. Omongan miring mulai bermunculan. Padahal Azzam dan Zayna hanya bekerja seprofesional mungkin untuk menebar kebermanfaatan yang sempurna. Kedekatan mereka pun masih dalam koridor syar’i. Bagaimana tidak, keduanya seorang penghafal Al-Qur’an.

Apa mau dikata, mindset teman-teman di sekelilingnya sudah salah kaprah. Tingkat ke-cie-cie-an dari mereka terus meningkat hingga stadium akhir. Ini tandanya, bahaya.

***

Sehina inikah aku hingga menjadi fitnah bagi Zayna…

Keresahan Azzam berujung pada sujud panjang pada malam harinya dan dalam untaian doa yang tak berkesudahan. Azzam berdoa supaya Allah teguhkan pilihan yang baik untuknya di dunia dan di akhirat nanti.

Keesokan harinya,”Ayah, aku akan melamar Zayna.”

“Kau yakin dengan pilihanmu? Meski kalian berdua masih sama-sama berkuliah?”

Azzam mengangguk mantap,”InsyaAllah.”

***

Satu bulan kemudian, Azzam berhasil menggetarkan ‘arsy dengan janji sucinya di hadapan Allah.

“Kau tahu Zayna? Aku tak ingin menjadi fitnah bagimu. Ternyata Allah teguhkan hatiku untuk menikahimu…”

Hening.

“Begitu omongan miring teman-teman bermunculan, jarak yang kau hadirkan semakin jauh. Padahal kita sama-sama tahu, selama bekerja, kita bersitatap muka saja tidak pernah. Kau tahu Zayna? Caramu menjaga diri semakin membuatku membulatkan tekad untuk menikahimu.”

“Dan kau tahu Azzam? Kaulah satu-satunya lelaki yang paling bertanggungjawab setelah ayahku. Meski kita sama-sama tahu, kau tak berada di pihak yang salah. Namun, murka Allah bagimu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan.”

Senyum indah menghiasi wajah mereka.

“Eh, muraja’ah yuk!”


 

Fenomena pemuda-pemudi zaman sekarang semakin membuat resah. Betapa tidak, pacaran bukan lagi sebuah hal yang asing. Hamil di luar nikah menjadi persoalan yang biasa. Aku tidak ingin menyalahkan mereka. Berbagai faktor melatarbelakangi perilaku ekstrem mereka, sedikit banyak adalah salah pergaulan dan salah tontonan. Lingkungan dan tontonan sangat mempengaruhi pribadi seseorang. Acara TV zaman sekarang memang mengerikan. Ya salah satunya adegan pacaran di usia dini sampai hamil di luar nikah. Naudzubillahi min dzalik. Buntutnya, lelaki dan perempuan macam Azzam dan Zayna makin sulit ditemui. Seperti hakikat kebenaran yang semakin kesini semakin terasingkan.

Namun, sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata di atas membuatku sedikit merenung, masih ada ya laki-laki macam itu. Masih ada ya perempuan macam itu, yang malunya masih terjaga. Paling tidak, nafasku sedikit lega karena masih ada benih-benih harapan bangsa yang unggul.

Ah, aku tidak ingin menghina yang pernah atau sedang berpacaran. Aku tidak ingin menghina yang pernah atau sedang hamil di luar nikah. Sesuci apa aku jika berani menghina. Tidak semata-mata orang yang memiliki masa lalu buruk, selamanya akan jauh dari hidayah dan taufik Allah. Salah! Setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk bertaubat. Dan Allah sangat suka itu.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ketaatan kepada-Nya. Tapi lagi-lagi, ini masalah hidayah dan taufik dari Allah ‘Azza Wa Jalla. Seringkali kita mendapat hidayah, namun tidak mendapatkan taufik. Kita tahu hukumnya, tahu ilmunya, itulah hidayah dari Allah. Namun, jika belum melaksanakannya maka Allah belum memberikan taufik.

Sahabatku, pemuda-pemudi Indonesia. Betapa pentingnya pondasi iman di dalam hati kita untuk mencetak generasi yang hebat. Hebat di mata dunia dan lebih hebat di mata Allah SWT. Dan itu dimulai dari kita.
Jangan lelah hijrah. Jangan lelah berbuat baik. Jangan lelah memantaskan diri menjadi lelaki dan perempuan yang dirindukan Allah.
Semoga hidayah dan taufik selalu Allah limpahkan kepada kita semua. Aamiin.
Yogyakarta, 7 Juni 2017
Pukul 23.28 WIB
Rumah Cahaya Asma Amanina
#30WDCJilid7 #Day2
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s