Non Fiksi

Berkah Menulis

IMG-20170708-WA0006

“Farah, ajarin aku nulis dong…”

Sebuah kalimat di atas seringkali terlontar dari mulut beberapa teman dekatku. Lah… aku tak tahu harus menjelaskan seperti apa karena selama ini aku menulis hanya dengan kehendak hati saja; tidak ada yang benar-benar mengajari. Untuk ditodong permintaan seperti itu juga aku masih jauh dari kata pantas. Sangat amat jauh. Tulisan saya masih belum apa-apa. Buku sendiri juga belum punya (doakan ya bisa segera. hehe. aamiin)

“Tulis aja apa yang kamu ingin tulis. Serius. Bagus atau nggaknya mah itu belakangan aja.”

Alhasil aku hanya dapat membalasnya seperti itu.


“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” ― Seno Gumira Ajidarma

Bagiku juga, menulis adalah bagian dalam menjumput hikmah yang berserakan, merajutnya menjadi untaian yang bermakna. Seperti slogan favoritku –longlife learner- yang berarti aku harus menjadi pembelajar selamanya melalui hal apapun yang terjadi dalam hidupku. Adalah salah jika belajar itu didegradasikan maknanya menjadi hanya melalui buku, duduk di bangku kuliah, ataupun duduk di bangku kajian. Ketiga itu, sangatlah perlu. Namun, ternyata masih banyak sekali pelajaran hal di sekitar kita yang masih berceceran, jarang sekali orang yang hendak ‘menjumput’-nya apalagi menuangkannya ke dalam tulisan.

Kenapa harus dituangkan dalam tulisan?

Aku sering menyebutnya dengan MLM kebaikan. Bayangkan, jika kita menulis suatu hikmah ataupun pelajaran baik yang kita ambil dari sekitar kita -sesederhana apapun-, lalu ada orang yang membaca dan hatinya tergerak untuk melakukan kebaikan yang sama kemudian perlahan mengubah hidupnya mengarah ke yang lebih baik…who knows? Seperti yang sering aku tuliskan maupun katakan bahwa kita tidak akan pernah tahu barangkali tulisan kita-lah yang menjadi perantara Allah dalam menyampaikan kebaikan-Nya untuk orang lain.

Aku akui bahwa tulisan-tulisan saya tergolong ringan untuk dibaca. Namun, hampir -bahkan- semua tulisan saya adalah merupakan pengalaman saya pribadi; yang saya mencoba selalu telisik hikmah apa yang Allah selipkan di setiap episode kehidupan yang Dia tetapkan untukku. Maka seringkali, tulisanku dapat menjadi self reminder yang kuat -sekali- bagiku untuk menjalani hidup ke depannya. Aku juga pernah menulis sesuatu yang intinya ‘berulang’. Ketika aku menuliskannya berulang, berarti saat itu aku sedang ingin mengingatkan dirku sendiri untuk kembali pada prinsip itu. Yap. Sebagian besar yang aku tulis -secara implisit- adalah prinsip hidupku. Setiap tulisan yang buat juga hampir semua disertai dengan ’emosi’; maksudnya dengan hati. Aku harus segera menulis ketika ada sesuatu yang memuncak dalam hati. Maka, tulisan itu akan menjadi lebih ‘bernyawa’.

Menarik, kan? Menulis tidak hanya bermanfaat untuk orang lain tetapi juga untuk diri sendiri. Kebaikannya turun-menurun. Yap! Menumbuhkan peluang berkah. Bahkan bagi sebagian orang, menulis adalah proses healing.

“Healingnya saya adalah nulis. Senang nulis, sedih nulis, kaget nulis, excited nulis, pokoknya segala perasaan yang pakai banget banget, dialirkannya lewat aktivitas menulis.” – Febrianti Almeera (dalam akun instagramnya)

Tentu setelah mengadukan sepenuhnya kepada Allah ya. Allah must be first at all. Hehe.

Ah iya, sedikit cerita. Bisa dibilang awal mula saya mulai menulis juga karena penulis quotes di atas. Atau lebih akrab dipanggil Teh Pepew. Sedikit banyak, saya terinspirasi dengan tulisan Beliau. Rasa-rasanya tulisan saya jadi hampir setipe dengan Beliau. Memang apa yang kita baca sangat mempengaruhi gaya tulisan kita.

Lihat buktinya! Nyatanya, tulisan Teh Pepew adalah salah satu perantara Allah dalam menyampaikan kebaikan-Nya untukku. Yap, sampai detik ini aku menjadi semakin ingin berusaha menjumput hikmah yang berserakan, yang merajutnya menjadi untaian kalimat yang bermakna. Semoga.

Aku selalu yakin setiap orang dapat ‘menulis’. Setiap orang dapat menuangkan ungkapan rasa dan pikiran mereka melalui tulisan; pendek maupun panjang. Dan aku selalu terkagum-kagum ketika membaca tulisan orang lain. Aku rasa, tidak ada yang tulisan yang buruk; karena setiap tulisan memiliki ‘bahasa’ dan ‘cara’-nya masing-masing yang membuatnya istimewa. Ups, asalkan tulisannya tetap dalam koridor kebaikan dan tidak melanggar syari’at islam ya. Selain itu, tulisannya aku anggap buruk. Hehe.

Aku menulis bukan karena jago. Apalagi karena merasa paling benar. Salah besar!!!

Aku hanya tidak pernah tahu amal mana yang membuat Allah memberikan rahmat-Nya untukku. So, keep writing yang baik-baik. Ingaaat! Barangkali tulisan kita adalah perantara Allah dalam mengantarkan kebaikan-Nya untuk orang lain.

Ah, lagi-lagi aku tidak tahu. Yang kutahu, kita hanya perlu terus berbuat baik. Yuk! 🙂


 

Yogyakarta, 8 Juli 2017

Pukul 23:23 WIB

Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWCJilid7 #Day3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s