Non Fiksi

Kekuatan Doa yang (kadang) Terlupakan

umar-4
Sumber gambar: Syahida.com

Yuk mari mengingat shirah Nabi kembali. Saat Umar bin Khattab, “Sang Preman Mekah”, menjadi sahabat terbaik kedua Nabi SAW setelah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Masa Dakwah Rasul Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Pada masa ini, Umar bin Khattab adalah Preman Mekah yang sangat khawatir terhadap dakwah Rasul yang mulai dilakukan secara terang-terangan setelah selama tiga tahun Beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyatud dakwah). Dakwah Rasul secara terang-terangan ini membuat Mekah menjadi tidak nyaman bagi Umar sehingga membuat banyak umat Mekah yang berhijrah ke Habasyah (sekarang Eutopia). Hal ini sangat memalukan Umar. Sehingga suatu ketika Umar hendak mendatangi Rasul dengan membawa sebilah pedang untuk membunuh Rasul, di dalam perjalanannya menuju Rasul, Beliau bertemu dengan seseorang yang mengatakan,”Wahai Umar, kenapa engkau susah payah memikirkan Muhammad sedangkan adikmu sendiri telah beriman dan berada pada pihak Muhammad?” (Redaksinya tidak sama tapi intinya seperti itu).

Seketika, yang semula Umar ingin menuju Rasul, berbelok menuju rumah adiknya. Saat Umar sampai di rumah adiknya, Fatimah, Fatimah bersama dengan suaminya sedang membaca Al-Qur’an. Terjadi pertengkaran di antara keduanya hingga Umar melukai adiknya sendiri dan memaksa Fatimah untuk memberikan lembaran Qur’an yang dibacanya tadi, meski awalnya disembunyikannya tapi kemudian diberikan juga kepada Umar. Surat Al-Qur’an yang ada pada lembaran itu yang kemudian dibaca Umar adalah QS. Thaha,
“Thaahaa.. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.. Dst”.
Fyi, Umar adalah sosok yang cerdas karena pada masa itu Beliau merupakan salah satu dari 17 orang yang bisa membaca. Selain itu Beliau adalah penyuka sastra sehingga Beliau sangat paham bahwa ayat yang dibacanya tadi bukanlah buatan manusia. Setelah membaca ayat-ayat QS. Thaha tadi, Umar berbalik dan mendatangi Rasulullah. Sahabat-sahabat yang menjaga Rasul sudah bersiap siaga siap membunuh Umar jika Umar berniat buruk kepada Rasul. Mereka kira Umar akan bertindak jahat terhadap Rasul. Ternyata, tanpa ada siapapun yang menyangka, Umar mendatangi Rasul untuk meminta Rasul membaiat Beliau. Kemudian Beliau mengucap dua kalimat syahadat. Allaahu Akbar.

Tak banyak orang yang tahu… Bahwa Rasul sebelumnya, tak pernah berdakwah secara khusus, secara fardhiyah, kepada Umar. Rasul “hanya” pernah berdoa kepada Allah,Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan masuknya dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin Al-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Ternyata orang yang paling dicintai Allah dalah Umar bin Kaththab.

Dan Allah benar-benar mengabulkan doa Rasulullaah SAW.
“Manusia itu seperti bahan tambang. Yang terbaik pada masa jahiliyahnya, maka dia akan menjadi terbaik di masa islamnya, apabila dia mau memahami.”

*note: inilah yang juga meyakinkan bahwa ucapan dapat menjadi doa yang mustajab sehingga kita perlu sangat berhati-hati dalam berucap.

Kemudian…
Yang katanya aktivis dakwah, jangan sampai sombong atas segala ikhtiar yang telah kita lakukan. Mungkin selama ini dakwah kita, tidak qowy/kuat, kurang berhasil bahkan tidak berhasil, adalah akibat kurangnya doa.

Mungkin, kita (atau mungkin hanya saya), selama ini hanya menguras keringat dan hati. Untuk sesuatu yang katanya dakwah. Tapi… Lupa berdoa kepada yang Maha Membolak-balikkan Hati Manusia. Innalillahi wainnailayhi raji’un.

Sejatinya, ikhtiar tanpa doa adalah sebuah kesombongan hakiki.

Di akhir kelas malam saat itu, Asatidz Sirah kami, Ustadz Deden berpesan kepada kami,
“Kalian jangan sampai menganggap orang yang celananya belel sebagai Ahlunnar (Ahli Neraka), kemudian berdakwah di zona nyaman. Mendakwahi yang hanif-hanif yang sebenarnya mereka tak terlalu butuh kita. Justru harusnya mereka yang tak mengerti apa-apalah yang juga menjadi target besar kita (Redaksi: barangkali mereka akan menjadi “Umar” di masa saat ini, kita takkan pernah tahu. Wallaahu a’lam).” -redaksi sesuai sepenangkap saya-.

#Plak Hati ini tertampar sangat keras.
Mulai saat ini, yuk saat doa rabithah (yang belum tau boleh banget browsing. doanya keren banget) kita ucapkan di pagi dan/atau sore hari, jangan lupa untuk membayangkan wajah kedua orang tua kita, keluarga kita, negeri kita, sahabat-sahabat kita, dan juga teman kita yang ingin kita doakan.

Bahkan di dalam pesan tadi, Ustadz Deden menyelipkan sebuah kalimat,”Kalau perlu nama-nama teman (redaksi: yang kita inginkan menjadi barisan dalam kebaikan bersama kita ini) di sebuah kertas kemudian didoakan secara bersama dalam Qiyamul Layl.”

Ya Allah… Sebegitunya kita ingin mencontoh perilaku Uswatun Hasanah kita, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam.

Mari bersama dalam medan juang ini dengan penuh keikhlasan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan. Semoga Allah ridha dengan ikhtiar dan doa-doa yang kita lantunkan sehingga Allah ridha menghadirkan keberkahan-keberkahan di hari-hari kita mendatang. Aamiiin.

Wallaahu a’lam bishshawab. Mohon doa semoga Allah mengampuni kesalahan penulis dalam menuliskan kisah ini. Aamiin. Mohon koreksinya juga apabila ada yang salah dalam kisah yang saya sampaikan.


Yogyakarta, 16 Februari 2017
Pukul 23.10 WIB
Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWC #Day4

***

Referensi:

  1. Kajian malam asrama bersama Ust. Deden Herdiansyah, M.Hum
  2. Al-Mubarakfury, S. 2017. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s