Non Fiksi

Apa yang Kita Cari?

“Aku ingin tidak mengaktifkan semua akun media sosialku.” Wajah Zayna menunjukkan kelelahan yang luar biasa.

“Lho, kenapa?” Sontak Qonita kaget karena ia tahu bahwa media sosial adalah ‘dunia’ bagi Zayna, sebagai sosok penting di kampusnya.

“Nggak selamanya, tetapi aku butuh waktu untuk diriku sendiri.”

“Kalau begitu kau egois, Na. Kau akan mendzalimi banyak orang.”

“Bukan begitu… Kau pahamkan? Apabila sebuah nahkoda menjalankan kapalnya dengan tanpa mengikuti arahan pusatnya?”

“……..”

“Aku hanya perlu waktu berdua dengan-Nya beberapa waktu saja. Memperbaiki apa yang salah, meluruskan apa yang bengkok.”

“Baiklah jika kau keinginanmu seperti itu.”

***

Sebuah ilustrasi dari sesosok yang memiliki segudang aktivitas di kampusnya. Aktivitas yang banyak mengorbankan waktunya termasuk waktu bermesra dengan Rabbnya.

Sesungguhnya apa yang kita cari di dunia yang fana ini?

Dunia sedang sibuk berebutan jabatan, bertinggi-tinggian nominal harta kekayaan, dan berlomba kepopuleran. Seakan-akan orang yang memiliki jabatan tertinggi, yang harta kekayaannya paling banyak, dan paling banyak dikenal orang adalah the happiest person in the world.

Hmm… Zayna sudah merasakannya. Betapa kesibukannya yang sebetulnya masih belum seberapa telah merenggut sebagian hatinya yang terpaut pada Rabbnya. Bahagiakah? Tidak. Ketidakbahagiaan tersebut bersumber dari niat yang salah dan bengkok. Niat yang bukan lagi Allah sebagai muara akhirnya, sehingga amal keseharian menjadi menurun yang berujung pada kelelahan dan kemalasan. #plak

Maka tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak. Pit stop. Meluruskan kembali niat dan tujuan yang kita cari selama hidup di dunia. Bagaimana menjadikan aktivitas yang banyak itu sebagai amal kebaikan di mata Allah. Menyusun kembali apa yang berantakan. Jangan sampai kita berjalan jauh, tetapi tujuan kita bukan lagi Allah… Jangan sampai aktivitas yang kita anggap baik justru menghadirkan jarak di antara kita dengan Allah…

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28)

Jika yang kita cari adalah kebahagiaan, maka sebaik-baik kebahagiaan adalah ketenangan yang kita peroleh dengan mengingat Allah. Hanya dengan mengingat Allah SWT, merenungi ayat-ayatNya, dan memahami kesempurnaan kuasa-Nya dengan sepenuh hati dan keyakinan, hati orang-orang Mukmin dapat merasa tenang dan nyaman. Kegalauan pun lenyap dari mereka karena cahaya keimanan yang meresap kuat dalam hati (Tafsir Al-Munir).

So…any another choices?

 

***

Referensi:

Az-Zuhaili, W. 2016. Tafsir Al-Munir Jilid 7. Gema Insani Press, Yogyakarta.


Yogyakarta, 19 Juli 2017

Pukul 07.58 WIB

Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWCJilid7 #Day13

Advertisements

One thought on “Apa yang Kita Cari?

  1. Atau tujuan hidup kita sudah membaur dengan pergaulan kita.. Kita hidup untuk orang lain..

    Sedihnya.. “kita hidup untuk mati” atau “kita hidup untuk akhirat” kadang hanya jadi pemanis saja, bukan dimaknai dengan nyata..

    Makasih share nya mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s