Non Fiksi

Cahaya di Tengah Kota

Kemarin sore saya diprivate massage whatsapp oleh seorang ibu-ibu dari sebuah kampung tidak begitu jauh dari asrama saya. Beliau membutuhkan guru ngaji yang menggunakan metode ummi untuk dijadikan guru ngaji di TPA kampungnya. Awalnya, 2 hari yang lalu koordinator tahsin saya di asrama memang menawari perihal guru TPA tersebut, saya sedikit abai dan tak menganggapnya serius. Eh, ternyata kontak saya diberikan juga ke Ibu yang saya sebut di atas. Ternyata serius beneran. Hehe. Tahsin asrama saya memang menggunakan metode Ummi dan qadarullah saya diizinkan Allah lulus tashih generasi pertama angkatan 6, meski masih menunggu sertifikasi.

“Assalamualaikum..bu maaf mengganggu..saya ibu ***. Saya butuh guru ummi untuk ngajar di mesjid ***. Apa ibu bersedia…tpa kami menggunakan iqro ini yang iqro 3 keatas akan dicoba metode ummi. Besar harapan saya ibu meluangkan waktu untuk bisa ngajar di tpa kami.”

Baiklah.. saya dipanggil Ibu karena Ibu tsb belum tahu saya masih kuliah. ^^

Tabiat orang jawa yaitu gak enakan, alhasil kalimat ‘besar harapan saya ibu meluangkan waktu untuk bisa ngajar di tpa kami’ berhasil meluluhlantahkan hati saya, tak tega saya menolaknya meski kapasitas diri belum semumpuni yang dibayangkan. Ibaratnya masih anak ummi kemarin sore.

Singkat cerita, Ibu tersebut meminta saya untuk sowan ke rumah beliau terlebih dahulu. Awalnya dipilih Ahad siang, tetapi ternyata orang tua akan ke Jogja. Qadarullah agenda jumat sore tadi dipindah sehingga agenda saya alihkan untuk menemui Ibu tersebut. Lebih cepat dari perkiraan.

Ternyata Ibu tersebut masih terhitung muda, kami jadi sangat nyambung dalam berbicara. Di pertemuan sore tadi, Ibu mengisahkan banyak sekali hal perihal kondisi TPA di kampungnya yang sangat tidak terkontrol. Dari mulai anak-anak yang tidak lagi menghormati ustadz/ah-nya, guru TPA terkadang hadir terkadang tidak, dan lain sebagainya. Sampailah di sebuah obrolan,

“Mbak, saya sok kadang (terkadang) terenyuh e kalo liat anak-anak itu ngaji udah iqro’ berapa tapi huruf-huruf pada belum hafal, yang udah Al-Qur’an tapi tajwid amburadul. Ustadz-nya ya cuman ngelulusin sebagai formalitas aja soalnya kalo nggak lulus atau dimarahin, anaknya lapor ke orang tua, terus orang tuanya protes. Orangtua di sini itu nggak terlalu peduli anaknya bisa ngaji atau nggak, Mbak.”

Saya menikmati Ibu itu mengungkapkan keresahan yang menimbulkan keresahan yang lain di sudut hati saya.

“Anak saya saya sekolahkan di SDIT *** pakai metode ummi, alhamdulillah bagus. Saya suka nangis kalo pas khataman di sekolah, ndengerin anak-anak pada ngaji, baguuuus. *Saya mbatin ‘mbok nek bisa anak-anak masjid kene ki iso ngaji koyo ngene… (Dalam hati saya berbicara seandainya anak-anak masjid sini bisa ngaji seperti ini).

“Jadinya saya mikir, nanya sama suami, gimana ya caranya biar anak-anak masjid sini bisa lancar ngaji. Jadinya saya dengan beberapa ibu-ibu dengan keresahan yang sama mencari guru ummi. Sempat susah banget cari guru, tetapi dikasih rekomendasi Bu *** (koor tahsin saya) yang memang guru tahsin di SDIT tempat anak ibu itu sekolah.”

Qadarullah, Allah berikan takdir saya-lah yang dipertemukan dengan ibu itu. Saya benar-benar melihat guratan harapan dan semangat yang besar di wajah ibu dan Sang suami.

Ya Rabb… ternyata masih ada cahaya di tengah hiruk pikuk kota macam ini. Ini hanya satu ibu yang takdir Allah izinkan saya temui, saya yakin masih ada ibu-ibu atau orang-orang di luar sana yang memiliki keresahan yang sama. Hanya saja mungkin mereka belum menemukan orang yang mereka cari. Semoga prasangka saya ini benar adanya…

“Mbak, ini Mbak ibaratnya saya ajak berjuang dari awal. Mbak sudah tau dari cerita saya kalau karakter anak-anak di sini seperti itu.” Ibu itu masih terus bercerita dan saya tidak bosan mendengarkannya dengan sesekali menimpali.

“Harapannya dengan penggantian metode ini, jadi bisa lebih serius. Mungkin tempatnya di sini dulu, Mbak. Cukup luas dan suasananya tenang jadi bisa lebih kondusif. Sekalian biar tempat ini jadi saksi, kan yo ora digowo mati to mbak… (kan juga tidak dibawa mati kan mbak).” Suami Ibu itu pun ikut menimpali.

“Nanti yang di sini diajak anak-anak yang mau serius ngaji dulu, sambil saya deketin ibunya.”

Saiki teknologi canggih, mosok ngaji ra iso kan piye mbak (Sekarang teknologi canggih, masa ngaji tidak bisa kan ya gimana mbak).”

Hampir satu jam kami berbincang, akhirnya saya pamit pulang.

***

Perkotaan tak selalu identik dengan kebahagiaan karena kecanggihan fasilitasnya karena nyatanya fasilitas yang canggih justru melenakan dan menghancurkan bagi orang-orang yang belum bisa memanfaatkannya untuk jalan kebaikan. Terkadang wilayah perkotaan justru dibalap jauh oleh pedesaan yang masih memiliki semangat tholabul ilmi yang tinggi yang menjadi sumber kebahagiaan mereka. Karakter pemuda-pemudi generasi saat ini mulai tergerus oleh jajahan pemikiran barat. Bahkan, bukan lagi pemuda, anak-anak sudah menjadi sasaran utama untuk ‘dicuci otaknya’. Naudzubillah min dzalik…

Bersyukur saya dipertemukan dengan Ibu itu. Ibu yang masih memiliki semangat untuk baik bersama-sama. Tak banyak orang yang peduli dengan orang-orang sekelilingnya, bodo amat mau shalih atau enggak. Apalagi di daerah kota, sikap individual semakin menyeruak saja. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Ibu itu. Rasanya saya semakin tidak kuasa menolak permintaan Ibu itu untuk berjuang bersama. Ya Allah ini pertama kalinya saya diajak berjuang oleh seorang ibu yang belum ada satu hari saya kenal. Tetapi Allah-lah yang menjadi alasan utama semua ini bisa terjadi.

Dear aktivis dakwah kampus, di dalam masyarakat-lah sejatinya kita akan terjun nanti… Semoga keresahan-keresahan yang Ibu itu (dan masyarakat di luar sana) rasakan perlahan dapat kita hempas, karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Barangkali kita-lah yang Allah pilih untuk menjadi perantara kebaikan-Nya untuk orang lain. Iya, bukan karena kita hebat, namun karena Allah-lah yang memberi kemampuan untuk menjadi perantara-Nya.

Ya Allah, make me strong in Your Ways. Always…and forever. :’)

Aamiin

IMG_20170722_133545_037

 

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari]


 

Yogyakarta, 21 Juli 2017

Pukul 23.50 WIB

Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWCJilid7 #Day16

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s