Non Fiksi

Belajar dari Mas Aiman

WhatsApp Image 2017-07-23 at 23.18.21
Sumber: Instagram Ustadz Deden

Aiman Izzat Mukhtar, begitu Ustadz Deden (Pengasuh PPMi Asma Amanina) menamakan anak kedua Beliau. Dari ketiga putra dan putri Ustadz, Aiman adalah anak yang paling aktif, paling banyak tingkah, dan paling banyak caper. Kadang gigit mukena ‘ammah-‘ammahnya, kadang bawa barang buat dilempar ke ‘ammah-‘ammahnya, dan hal aneh bin membahayakan lainnya yang tak jarang membuat kami khawatir tujuh keliling. Bukan hanya ‘ammah santri dan pemandu yang sering menjadi ‘korban’, kakak dan adiknya pun sering dijahili. Bahkan pun kepada Ummi dan Abinya, seringkali saat Ustadz masih mengajar kami di kelas, Aiman merengek-rengek (tapi itu lucu bagi kami. hehe). Wajar untuk anak se-usia 3 tahun.

Dibalik semua sifat menggemaskannya, aku bisa belajar banyak darinya. Banyak sekali. Termasuk saat menjelang maghrib tadi.

Aiman keluar dari kamar Roesi tergopoh-gopoh membawa empat kue coklat kecil. Kuhampiri dia yang hendak duduk menikmati kuenya.

“Mas Iman (panggilan sayang kami) dapet dari siapa?”

“‘Ammah Rosi… Iman mau makan duaaah.” Ujarnya sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Lah, yang dua sisanya buat siapa, Mas?”

“Buat kakak sama Akmal.”

“Mas Iman shalat yuk!”

“Nggakmau, nanti makannya gimana…”

Hadeuh dasar Iman…

Ketika kami hendak shalat berjamaah, kudekati lagi dia.

“Iman udah makan duaaaah.”

“Yang dua buat ‘Ammah Bintang sama ‘Ammah Farah ya!” Aku dan pemanduku menggodanya.

“Nggakmau. Buat kakak sama Akmal!” Sejurus kemudian Aiman memasang muka cemberut sembari menyembunyikan dua kue sisanya.

Kami tertawa melihat tingkahnya.

Itu hanya salah satu dari ‘ribuan’ tingkah yang membuatku berdecak kagum untuk dikisahkan. Tak hanya kepada Aiman, pun kepada Kakak Haura dan Adik Akmal.

***

Sungguh, hikmah itu bertebaran di muka bumi. Hikmah datang dari mana saja dan dari siapa saja. Asalkan, kita selalu berusaha merundukkan hati bak berisinya padi.

Nyatanya, dari anak kecil pun kita dapat belajar. Belajar dari hikmah sederhana yang ada di depan mata. Dari kisah Aiman tadi sore membuatku berpikir pastilah sikap Aiman tadi adalah buah didikan orangtuanya; bagaimana menumbuhkan rasa sayang dan berbagai kepada saudaranya. Bagaimana tidak mementingkan diri sendiri meski pada hal yang disukainya. Padahal kita tahu, kebanyakan anak kecil cenderung ingin memiliki semuanya sendiri, termasuk makanan. Namun, berbeda dengan Aiman. Fenomena Aiman yang selalu menyisihkan makanan untuk kakak dan adiknya sering disaksikan oleh aku dan santri-santri lainnya yang sering membuat kami terenyuh.

Ah, betapa keshalihan orangtua diperlukan untuk mendidik anak sedari lahir

Tak hanya belajar dari Aiman, pun dari Haura dan Akmal aku sering belajar. Next time barangkali aku akan menulis mengenai ‘Belajar dari Kakak Haura’ dan/atau ‘Belajar dari Adik Akmal’. 🙂

Semangat belajar, longlife learner.


 

Yogyakarta, 23 Juli 2017

Pukul 23.11 WIB

Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWCJilid7 #Day18

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s