Non Fiksi

Kebaikan untuk Kebaikan

Sabtu, 24 Februari 2017

Matahari siang itu begitu terik, namun tak menyurutkan niatku untuk melajukan sepeda motor dari Yogyakarta menuju kampung halaman tercinta, Boyolali. Hari itu aku menyengajakan untuk pulang karena keesokan harinya ada sebuah event besar yang aku menjadi panitia di dalamnya dan siang-sore hari itu diadakan rapat persiapan. Aku pulang setelah menyelesaikan urusan di Yogyakarta sehingga baru pukul 13.30 (kalau tidak salah) kulajukan sepeda motor untuk pulang.

Selama perjalanan, rasa kantuk mulai menyapa. Hal tersebut dapat terjadi mungkin karena faktor udara yang panas dan rute jalan yang sudah hafal. Namun, sepanjang perjalanan aku selalu berusaha menghalau rasa kantuk sehingga aku tidak memutuskan untuk berhenti di pom bensin untuk membeli kopi karena kantuk sudah –mungkin- tidak terasa  (sebuah rutinitas ketika perjalanan pulang kampung jika kantuk mulai dirasa).

Hingga yang terakhir aku ingat, aku berada di belakang sebuah mobil………………………………………………

***

Aku membuka mata. Kebingungan melanda karena yang kulihat di sekeliling adalah manusia-manusia menggunakan jas putih sedang ‘membenarkan sesuatu’ di bibirku (di akhir aku paham, mereka sedang menjahit luka di bibirku).

Aku dimana e ini?

Sejenak aku menerka, ini di rumah sakit. Oh…aku kecelakaan.

Aku tidak tahu kenapa aku bisa kecelakaan. Aku terbangun sudah di rumah sakit dan ketika penanganan sudah hampir selesai. Kemudian aku digledek menuju ruang radiologi untuk dilakukan CT-scan. Ya, aku pasrah ingin diapakan karena aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Hingga kemudian orangtuaku datang dan mulai mengurus segala administrasinya.

Setelah mendapat ruangan, kemudian aku dilarikan ke ruang rawat inap.

Hasil CT-scan menunjukkan bahwa ada pembengkakan di otak sehingga membuatku mendapat infus khusus dan harus bedrest selama satu pekan penuh tanpa boleh duduk, apalagi jalan. Ditambah 3 gigi depan yang patah dan 1 gigi depan goyang. Hehehe. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Ketika aku sudah nyaman di ‘kasur baru’, aku mulai kebingungan mencari barang-barangku. Yang kutanya pertama adalah sebuah kantung hitam besar berisi barang-barang penting untuk acara besar yang akan diadakan esok paginya dan juga beberapa juta uang cash di dalam amplop coklat yang merupakan dana pemasukan untuk acara tersebut yang sangat amat diperlukan. Barang-barang tersebut adalah amanah dari oranglain yang membuatku khawatir setengah mati. Dan ternyata orangtuaku tidak berhasil menemukannya pasca kecelakaan, termasuk laptop ayahku yang belum lama aku pinjam…kemudian aku ikhlas dengan apa yang terjadi meski di dalam hati entah kenapa aku merasa yakin sekali bahwa semua barang itu tidak hilang.

Singkat cerita, malam harinya ada seorang ibu dengan keluarganya datang menuju ruanganku. Tahu apa yang terjadi? Ibu itu membawa sebuah karung besar berisi barang-barangku saat aku kecelakaan… Allaahu akbar. Semua barang-barangku pada akhirnya lengkap-kap-kap tidak ada yang hilang satu pun. MasyaAllah…

Ternyata Ibu itu yang aku lupa nama Beliau siapa (Allaahu yubaarik fiik, Bu) adalah saksi mata atas kecelakaan tunggal yang menimpaku. Beliau berada tepat di belakangku saat aku mengalaminya. Aku menabrak mobil di depanku yang katanya hendak berhenti dalam keadaan mengantuk bahkan tidur. Kenapa aku bisa menyimpulkan aku tidur? Karena bahkan aku tidak tahu bahwa aku menabrak mobil hingga kata Ibu tersebut aku terpental dan membuat bekas di mobil yang aku tabrak (mungkin karena kecepatan laju motor yang cukup tinggi). Ternyata aku sempat pingsan selama mungkin satu jam lebih akibat benturan yang mungkin cukup keras mengenai kepalaku. Akibat aku terpental dari motor, semua isi tasku keluar, HP mencelat, termasuk juga kantung plastik hitam yang aku sebut di atas.

Biidznillah, Allah kirimkan ‘malaikat-Nya’ yang ternyata dengan sigap mengamankan seluuuuuruh barangku yang tercecer :’). Yap! Ibu itu adalah ‘malaikat-Nya’… Ibu itu tak sempat mengembalikannya langsung karena diburu waktu hendak menuju kantornya sehingga baru dikembalikan malam harinya.

Allah…

Sering aku mendengar cerita tentang orang kecelakaan dan barang-barang berharganya dirampas oleh orang tak bertanggungjawab yang memanfaatkan keadaan genting tersebut. Sedangkan di kasusku ini, sungguh amat terbalik. Uang beberapa juta, handphone, laptop, dan dompet yang menggiurkan itu tak berhasil untuk menggoyahkan iman Ibu itu. Justru dengan sigap memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Allaah… Allah…

***

Hal jazaul ihsaani illal ihsan. Allah janjikan dalam Surah Ar-rahman ayat 60 bahwa tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula. Aku tidak bisa bertemu Ibu itu lagi untuk sekedar membalas kebaikannya. Tetapi aku yakin insyaAllah setelah kejadian itu, Ibu itu dihampiri oleh kebaikan yang beranak pinak. Semoga…

Satu hal yang aku selalu mencoba tanamkan dalam diri ini.

Jika aku belum berkesempatan membalas kebaikan seseorang terhadap diriku, maka aku harus melanjutkan kebaikan itu dengan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya untuk orang lain.

Semoga diri kita senantiasa menjadi hamba Allah yang senantiasa berada di jalan kebenaran, di jalan kebaikan, hingga hidup kita diliputi oleh keberkahan dari-Nya. Aamiin.

So, jangan pernah berhenti jadi baik! Meski menjadi diri baik dan menjadikan orang lain baik perlu hati seluas samudera. Fashbir shabran jamiilaa… 🙂

 

Salam kebaikan!


Yogyakarta, 26 Juli 2017

Pukul 23.15 WIB

Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWCJilid7 #Day23

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s