Non Fiksi

Hati Sebening Air

6a00d83451cedf69e201a51162fcf0970c
Sumber: google

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ٨:٥٦

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Hidayah karena Ilmu

Hidayah Allah seringkali hadir karena perantara ilmu. Kepahaman terhadap ilmu baru, khususnya ilmu agama islam, akan menumbuhkan benih-benih cinta kepada Allah. Namun sayangnya, hanyalah Allah yang memiliki hak prerogatif untuk memilih hamba-Nya yang mana yang hendak Dia beri hidayah.

Memantaskan Diri

Meski hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah, kita tetap tidak boleh diam berpangku tangan menunggu hidayah datang. Kita harus senantiasa memantaskan diri untuk mengejar hidayah Allah karena tidak ada nikmat selain Allah beri ketentraman atas pemahaman yang lebih terhadap agama. Ada satu hal paling pertama yang harus dicek, yaitu HATI.

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut (Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik) yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Adalah sebuah ikhtiar sempurna, menjadikan hati sebening air. Cahaya-cahaya Allah dapat sempurna memasuki dan menyatu bersama molekul-molekul air. Beda halnya jika air tidak bening alias kotor, maka partikel-partikel kotoran akan menghalangi cahaya-cahaya Allah yang hendak memasukinya. Pada hati, kotoran-kotoran tersebut adalah maksiat-maksiat yang terus diperbuat sehingga dengan tegas memperkecil ilmu-ilmu Allah dapat masuk dalam hati. Sehingga nahi munkar atau menjauhi/meninggalkan keburukan/kemaksiatan adalah konsekuensi dari pakaian takwa kita; supaya hidayah dan taufik Allah semakin dekat untuk direngkuh…

Pun jika hati sudah sebening air, tugas kita adalah menjaganya supaya tetap bening dan tetap mengalirkannya pada dataran yang lebih rendah. Karena apa? Karena ilmu dan hidayah Allah datang pada hati-hati yang senantiasa menunduk…

Akan tetapi, hati berada di dalam gengggaman Allah. Allah berhak membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Maka bisa saja, Dia gerakkan hati yang semua dipenuhi kotoran menjadi sebening air, bahkan bening sekali dalam sekejap, sehingga hidayah dan taufikpun meliputi kehidupan-Nya…

Allah… Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Aamiin…


 

Boyolali, 29 Juli 2017

Pukul 23.00

#30DWCJilid7 #Day24

Di Rumahku Surgaku

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s