Non Fiksi

Dengan Siapa Kita Berkawan?

WhatsApp Image 2017-08-03 at 08.59.04

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Memang benar adanya jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan tertular bau wanginya, meski hanya sedikit. Berbeda jika kita berteman dengan pandai besi, tentu kita akan terkena percikan apinya. Sebuah perumapaan yang indah. Jika kita berteman dengan orang yang baik maka kita akan mendapatkan kebaikannya meski hanya sedikit, namun jika kita berteman dengan orang yang buruk maka jelas kita akan tertular keburukannya juga, meski hanya sedikit.

Rasulullah secara jelas memaparkan betapa pentingnya kita berteman dengan orang-orang yang baik; yang dengan bersamanya kita akan senantiasa mengingat Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Betapa lingkungan tempat kita berkawan menjadi faktor terpenting kedua setelah didikan orangtua untuk membentuk pribadi yang tak sekadar baik, namun juga menjadi pribadi rabbani. Ah iya, berteman dengan kawan yang orientasinya dunia saja sangat tidak menjanjikan. Karena dunia itu bersifat temporary, so berkawan dengan orang yang orientasinya dunia juga akan bersifat sementara.Mungkin kita mendapat senangnya di dunia, tetapi apakah muaranya adalah ridha Allah? Cek!

Bahkan, orang yang sudah berteman dengan orang baik -yang orientasinya Allah- saja terkadang masih ada yang belum membantu dirinya menjadi lebih baik. Bayangkan, lalu apa yang terjadi jika kita berteman dengan ‘pandai besi’?
Di sisi yang lain, sebagian orang berdalih seperti ini:
“Lah kan aku ingin mendakwahi mereka, jadi aku harus terjun.”
Hmm. Tidak salah. Bahkan niat itu sangat mulia!
Katakanlah Almarhum Ustadz Jefri Albukhori, Beliau semasa hidupnya mampu mendakwahi golongan preman dan sebagainya, dan ternyata insyaAllah dakwah Beliau sampai ke hati mereka tanpa membuat Ustadz Jefri menjadi ‘melebur’ bersama mereka.
 
But guys, cek lagi yuk kemampuan kita sudah seberapa levelnya. Apakah iman kita sudah kokoh hingga ke tahap sana? Jangan-jangan, bukan kita yang ‘mewarnai’, malah kita yang terwarnai. Be careful!
Jangan lupa melantunkan untaian doa untuk memohon keistiqomahan kepada Allah untuk diteguhkan dalam jalan kebaikan bersama-sama dengan orang baik yang Allah ridha. 🙂

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Ya Allah, aku memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.
(HR. Tirmidzi no. 3235)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s