Non Fiksi

Meng-angkasa-kan Harap

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”


WhatsApp Image 2017-08-30 at 08.43.54

Lagi-lagi tentang harap. Aku suka sekali dengan bahasan ini. Tak lain sebagai cambuk dan doa untuk diri sendiri. Karena bahaya…jika harap disandarkan dan diangkasakan bukan lagi pada-Nya.

Menghadaplah kepada Allah dan jadikan tujuanmu adalah Allah satu-satunya, serta berdoalah kepada-Nya agar terhindar dari neraka dan mendapatkan surga. Janganlah kamu meminta pahala amalmu melainkan hanya kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang patut dijadikan tempat mengadu dan bertawakal (Tafsir Al-Munir).

***

Pertandingan identik dengan kemenangan. Ada yang mendefiniskan kemenangan dengan perolehan gelar juara, dengan medali emas-perak-perunggu, atau dengan puja-pujian dari orang-orang. Apa definisi kemenangan bagimu? 🙂

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshaalihat. Allah izinkan aku untuk terbang menuju Makassar 22-27 Agustus yang lalu. Sebuah episode yang sama sekali aku tak berharap untuk bisa sampai di titik itu, ke Makassar, bertanding skala nasional dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30; sebuah ajang -yang katanya even nasional paling bergengsi- yang dimimpikan hampir seluruh mahasiswa Indonesia. Aku tak pernah berharap, tetapi aku pernah berdoa yang kusematkan dalam tulisan sederhana di kamar,”Bismillah PIMNAS 2017.”

Setiap peserta menantikan sebuah gelar juara yang disematkan padanya…sebuah pengharapan yang bisa-bisa keliru karena Allah tak lagi ada dalam tujuan.

Satu per satu pengumuman pemenang disebut hingga sampai di medali terakhir. Namun, tak satupun juri menyebut nama tim kami. Aku hanya tersenyum. Ingin menyesal, sedih, ataupun kecewa; tetapi aku gagal merealisasikannya. Aku hirup nafas dalam-dalam, memejamkan mata, dilanjut berdialog dengan diri sendiri.

“Lihatlah. Kau berada di titik ini adalah sebuah nikmat yang tidak terkira. Sebuah pengalaman yang mahal harganya. Pengalaman yang diimpikan banyak sekali orang. Ah. Pertandingan bukan melulu untuk menang kok, Far. Namun, untuk belajar banyak sekali hal… :)”

Tanpa PKM dan PIMNAS ini mungkin aku belum tahu bagaimananya pusingnya submit jurnal, submit conference, analisis statistik, dsb. Dan tentu aku jadi banyak belajar dalam memahami karakter orang lain yang berbeda-beda.

Bersyukur, Allah tempatkan aku berada di tim PKM yang mungkin berbeda dari tim yang lain. Sebuah tim yang aku merasa satu frekuensi dalam hal tujuan…yaitu Allah. Tanpa sadar kami saling menginspirasi untuk tilawah di sela kesibukan PIMNAS. Mengingatkan shalat. Mengingatkan tilawah Al-Kahf di Hari Jum’at. Dzikir pagi-petang. Allaah…Meski setiap tim tentu ada dinamika naik-turunnya sendiri-sendiri.

Bersyukur, dosen pembimbing kami bukan lagi hanya sekadar dosen pembimbing, namun juga sebagai dosen spiritual kami yang senantiasa membantu kami meluruskan niat. Sebuah pesan indah dari Beliau sangat menyejukkan hati;

“Kemenangan hakiki adalah ketika kita bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan yang ada dan membuat kita semakin baik di mata Allah. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, Allah menunda perolehan medali mungkin karena Allah menyelamatkan kita nantinya dari rasa ujub, lupa diri, kurang introspeksi, mudah menyepelekan dll. Sebaliknya dengan hasil ini, mengingatkan untuk terus berusaha, tangguh, merasakan kekecewaan yang nantinya ketika memperoleh penghargaan kita sudah siap untuk tetap rendah hati, menghargai, dll. Karena kita sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan. Ingat Albert Enstein berapa kali gagal lalu berhasil. Jadi ini cara Allah agar kita bisa memetik hikmah hingga kita nantinya siap dalam posisi apapun, kita akan gagal jika ke depannya kita tidak berproses menjadi ‘baik’ dan tetap mengulangi kesalahan yang sama.” – dr. Arta Farmawati, Ph.D

MasyaAllah…uhibbuki fillah, dr.Arta.

Maka aku kembali belajar bahwa mengangkasakan harap dan menggantungkannya pada Allah semata adalah sebuah keharusan. Ketika keikhlasan hati senantiasa menyertai. Hasil akhir takkan menggoyahkan hati. Hasil sesuai doa maka hanya kesyukuran yang semakin melejit dan jika wujudnya tak sesuai dengan doa, maka otu hanya bentuk bagaimana Allah mencintai kita melalui cara yang berbeda. Percayalah Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Keep husnudzon! 🙂


Yogyakarta, 30 Agustus 2017

8:37 am

Asma Amanina

 

Iklan

4 respons untuk ‘Meng-angkasa-kan Harap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s