Fiksi

Seratus Hari Kepergian

Alif tersungkur di sudut ruang tamu. Tak ada air mata di wajahnya. Mungkin sudah terkuras habis semenjak seratus hari yang lalu. “Sudah lah, Nak. Sampai kapan kau akan meratapi kepergiannya?” Ahmad, Sang Ayah, mengelus pundak Alif dengan penuh kasih sayang. Bibir Alif masih membungkam. Ia tahu bahwa hari ini tepat seratus hari kepergian sosok yang… Lanjutkan membaca Seratus Hari Kepergian