Non Fiksi

Meng-angkasa-kan Harap

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” Lagi-lagi tentang harap. Aku suka sekali dengan bahasan ini. Tak lain sebagai cambuk dan doa untuk diri sendiri. Karena bahaya…jika harap disandarkan dan diangkasakan bukan lagi pada-Nya. Menghadaplah kepada Allah dan jadikan tujuanmu adalah Allah satu-satunya, serta berdoalah kepada-Nya agar terhindar dari neraka dan mendapatkan surga.… Continue reading Meng-angkasa-kan Harap

Non Fiksi

Melangit Bersama

30 Hari Mencari Cinta-Nya Sebuah program halaqah pikachu yang menjadi cita-cita kami menjelang bulan ramadhan yang lalu. 30 hari (eh tapi realitanya gak genap 30 hari hehe) saling estafet membangunkan shalat malam dari kamar ke kamar; menunggu kawannya sampai benar-benar-benar terjaga hingga mengambil air widhu. Satu per satu menuju kelas asrama hingga dilanjutkan dengan murajaah… Continue reading Melangit Bersama

Non Fiksi

Bagaimana Aku Tidak Cinta?

Bagaimana aku tidak cinta? Jika Allah kerap menangguhkan apa-apa yang menjadi pintaku. Bagaimana aku tidak cinta? Jika Allah kerap mengganti apa-apa yang menjadi citaku, Bagaimana aku tidak cinta? Jika Allah seringkali memintaku meluaskan hati seluas samudera. Bagaimana aku tidak cinta? Jika Allah seringkali memintaku memahami apa-apa yang belum aku pahami. Bagaimana aku tidak semakin cinta?… Continue reading Bagaimana Aku Tidak Cinta?

Non Fiksi

Dengan Siapa Kita Berkawan?

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau : مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة… Continue reading Dengan Siapa Kita Berkawan?

Non Fiksi

Separuh Agama

Dulu aku begitu mengagungkan ini. Menyempurnakan yang separuh seperti gampangnya. Bermain-main membuat janji ini itu dan merancang ini itu bersama yang tidak jelas kepastiannya. Hingga tiba masanya, Allah bukakan mata dan hati pada sebuah titik kesadaran bahwa menyempurnakan yang separuh itu bukanlah sebuah permainan semata. Melainkan separuh jalan menuju ketaqwaan yang hakiki. Betapa pertanggungjawabannya hingga… Continue reading Separuh Agama

Non Fiksi

Menjadi Angin

“Angin itu indah ya.” Ujar Zayna tiba-tiba. “Kenapa, Na? Tiba-tiba ngomong nggak jelas gitu.” Afiqah mengerutkan keningnya heran. Masih dengan pandangan lurus ke depan Zayna melanjutkan perkataannya tadi,”Angin itu tidak kasat mata, tetapi manfaatnya ada dimana-mana.” Kali ini Afiqah diam. “Kita sama sekali tidak bisa melihat angin, tetapi setiap detik kita merasakan kehadirannya. Membantu mengeringkan… Continue reading Menjadi Angin

Non Fiksi

Rezeki untuk yang Terjaga

Pagi tadi adalah pertama kalinya setelah dua tahun lamanya pulang kampung menggunakan kereta api (yap, setelah kecelakaan Februari lalu dilarang mengendarai motor). Akan tetapi, untuk sampai ke Boyolali aku harus naik bus umum terlebih dahulu setelah turun dari kereta di Solo. Jarak stasiun dengan tempat pemberhentian bus cukup jauh sehingga aku memutuskan untuk naik becak.… Continue reading Rezeki untuk yang Terjaga